Kamis, 03 Mei 2012

Penyebab Kerusakan Terumbu Karang


Penyebab Kerusakan Terumbu Karang

WILAYAH Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagian besar terdiri dari lautan. Ini merupakan kekayaan alam yang bisa digunakan untuk peningkatan ekonomi.Luas wilayah NTT saat ini mencapai 47.349,9 Km dengan luas lautan sekitar 200 ribu km dan 1.192 pulau. Ini merupakan kekayaan yang luar biasa. Kekayan alam yang bisa diraub dengan potensi ini adalah ikan-ikan yang hidup di laut, potensi wisata bahari, baik di permukaan maupun bawah laut, pembudidayaan mutiara dan rumput laut serta olahraga memancing dan menyelam (diving). Kekayaan dasar laut NTT pun bisa menjadi laboratorium alam untuk berbagai penelitian biota laut.
Namun kekayaan bawa laut ini akan hilang bisa tidak dilestarikan sejak kini. Aktivitas bom ikan yang masih berlangsung berpotensi merusak kekayaan biota laut. Saat ini saja, kerusakan terumbu karang yang merupakan sumber kehidupan bioata laut terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pemboman ikan bukan saja mematikan ikan tetapi berdampak pada kerusakan seluruh biota laut.
Tahun 2006, Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap)-LIPI telah melakukan pemetaan terumbu karang di seluruh Indonesia, dengan luasan terumbu karang tercatat sekitar 75 ribu km persegi yang tersebar di sekitar 841 lokasi di seluruh wilayah Indonesia.
Coremap melaksanakan pemetaan di tiga wilayah Indonesia, yaitu Indonesia Barat, Tengah dan Timur. Penelitian di wilayah Indonesia Tengah termasuk perairan NTT yakni Kupang dan Maumere.
 Hasil penelitian tersebut menyebutkan, sekitar 75 persen terumbu karang di Teluk Maumere, Kabupaten Sikka mengalami kerusakan akibat cara penangkapan ikan yang dilakukan nelayan menggunakan bom dan racun-racun lainnya.
Direktur Yayasan Mitra Bahari, Piter Embu Gusi mengatakan, terdapat 97 titik di perairan Teluk Maumere dan sekitarnya namun sebagian besar terumbu karang sudah rusak atau mati dan sisanya hanya 25 persen. Ini data yang disampaikan Coremap, sebuah program bantuan asing yang memfokuskan perhatiannya pada bidang pengelolaan terumbu karang.
Akibat dari terumbu karang yang sudah rusak itu, katanya, jumlah ikan yang hidup di laut berkurang. Dampak lanjutannya adalah penghasilan nelayan menurun dan sumber nutrisi untuk manusia pun ikut berkurang.
Menurut Gusi, terumbu karang di Teluk Maumere memiliki keindahan dan aneka warna sehingga dijadikan sebagai salah satu taman laut di Indonesia. Namun banyak di antaranya rusak karena kegiatan pengemboman ikan dan gempa bumi yang terjadi pada 1992.
Kerusakan terumbu karang di Teluk Kupang juga cukup memprihatinkan. Berbeda dengan kasus Maumere, terumbu karang di Kupang rusak karena ekploitasi yang dilakukan para pembuat kapur. Bahan baku pembuatan kapur tersebut membuat para penambang tidak saja mengambil karang laut di tepi pantai, namun sudah masuk hingga ke dalam laut.
Kerusakan terumbu karang di Pantai Pasir Panjang Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menimbulkan kerisauan tersendiri bagi tiga siswa SMA Negeri II Kupang, Kristina Puu Heu, Jefry Tuan, dan Alyan M Sioh. Berbekal ilmu yang dimiliki, mereka melakukan penelitian untuk mencari solusi agar kerusakan terumbu karang di daerahnya tidak kian parah.
Tim peneliti SMAN 2 Kupang memenangi Final Kontes Inovator Muda 2 dengan Tema Pelestarian Terumbu Karang' yang diadakan COREMAP- LIPI menyebutkan NTT dikenal memiliki terumbu karang yang sangat menonjol. Sayangnya, saat ini sekitar 50 persen terumbu karang di NTT mengalami kerusakan berat akibat aktivitas masyarakat di pesisir pantai yang menjadikannya sebagai bahan bangunan maupun kapur.
Kristina, salah satu anggota tim dari tiga anggota dalam tim itu mengatakan, dari hasil survei timnya di Pantai Pasir Panjang Kupang, terumbu karang digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan kapur. Kondisi ini sudah terjadi sejak 2000 silam. ''Bahkan lokasi pengambilan karang sudah jauh masuk ke dalam laut dengan menggunakan sampan, sekitar 50 hingga 100 meter dari batas surut,'' ungkapnya.
Dalam kurun satu tahun, kata Kristina, penambang dapat melakukan pembakaran terumbu karang sebanyak enam kali, berupa kegiatan pembakaran dua bulan sekali. ''Dengan sekali membakar terumbu karang setinggi lima meter dan berdiameter enam meter, setahun dapat menghasilkan 600 hingga 700 karung kapur yang beratnya 20 kilogram,'' cetusnya.
Kristina lantas melakukan perhitungan secara matematis, jika selama tujuh tahun, setiap harinya penambang mengambil terumbu karang, maka luas area terumbu karang yang rusak akibat pembuatan kapur diprediksi sekitar 56.376,6 meter kubik. ''Angka ini hanya untuk lima penambang saja, bagaimana kalau lebih banyak orang yang melakukannya,'' keluhnya.
Terganggunya keseimbangan perairan laut dengan rusaknya terumbu karang, kata Kristina, mengakibatkan rantai makanan putus. ''Dengan demikian fungsi biologis dari terumbu karang juga terganggu,'' ingatnya. Ia lantas mencontohkan, karena pemijahan, pemeliharaan berbagai biota laut khususnya ikan sebagai sumber protein yang berkualitas hilang dan berimbas pada produksi ikan menurun sebanyak 142.069.032 ton akibat ulah lima penambang selama tujuh tahun.
Tak hanya itu, kata Kristina, fungsi terumbu karang sebagai pemecah gelombang atau pelindung pantai juga hilang. ''Hal ini berdampak ekonomi biaya tinggi karena perlu membangun tembok pemecah gelombang sepanjang pantai,'' tegasnya.
Tim dari Kupang ini juga meyakini, perusakan terumbu karang juga berdampak pada ekologi terhadap ekosistem darat, yaitu pengrusakan hutan. Pasalnya, kegiatan membakar kapur juga berdampak pada ekosistem darat dengan menggunakan batang kayu yang berdiameter rata-rata 15-30 cm sebagai bahan bakar. ''Maka dipastikan hutan semakin gundul yang bisa menimbulkan bencana kekeringan, banjir, erosi, longsor, dan pemanasan global,'' jelasnya.
Hasnia staf pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Propinsi NTT yang ditemui Stan Dinas Kehutanan Propinsi-pada Pameran Pembangunan pertengahan Agustus lalu mengatakan, hasil survei yang dilakukan lembaga tersebut menempatkan perilaku manusia sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan laut. Menurutnya, sebagian besar masyarakat NTT yang memanfaatkan laut belum memahami potensi dan manfaat kekayaan laut. Banyak nelayan yang menggunakan bom dan aneka racun yang secara langsung merusak terumbu karang.
Eksploitasi hasil laut secara sacara seperti mengambil karang laut juga merupakan bentuk pengrusakan biota laut. "Karang merupakan rumah ikan sekaligus sumber makanan bagi ikan, sementara karang membutuhkan waktu sangat lamah untuk tumbuh dan berkembang," jelasnya.
Membuang Sampah, Merusak Lingkungan Laut
KERUSAKAN biota laut juga akibat perilaku manusia sehari-hari seperti membuang sampah di laut. Bapeldada NTT menyebutkan, membuang sampah baik sampah organik maupun organik berpotensi merusak lingkungan laut sebab berbagai aneka jenis sampah tersebut tidak lansung terurai.
Dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar sampah tersebut terurai. Beberapa contoh sampah yang membutukan waktu lama untuk terurai antara lain kulit pisang membutuhkan waktu 2 tahun, puntung rokok 1 hingga 5 tahun, kain nilon atau jaring membutuhkan waktu 30 hingga 40 tahun, bahan kulit mebutuhkan waktu 50 tahun, kaleng alumanium sekitar 80 hingga 100 tahun, botol kaca sekitar 1 juta tahun, kantong plastik sekitar 20 hingga 1.000 tahun sementara botil plantik tidak dapat diperkirakan.

gambar-gambar terumbu karang yang rusak dan penyebab kerusaakan terumbu karang


0 comments:

Poskan Komentar